Rabu, 22 April 2026

Memaksimalkan Strategi Procurement Melalui The Purchasing Chessboard

 Sepanjang perjalanan karier saya sebagai praktisi maupun konsultan di bidang Procurement & Supply Chain Management (SCM), The Purchasing Chessboard selalu menjadi salah satu instrumen favorit saya. Dengan 64 metode yang tersedia, alat ini sangat ampuh untuk mengidentifikasi peluang efisiensi biaya sekaligus meningkatkan nilai tambah (value) bersama pemasok.

Dalam implementasi 7 Steps Strategic Sourcing, pengembangan Category Strategy, hingga penyusunan rencana Cost Saving, The Purchasing Chessboard menjadi "menu wajib" yang saya gunakan berdampingan dengan Kraljic Matrix untuk menentukan langkah yang paling tepat. Sebelum mendalami The Purchasing Chessboard, saya sempat menggunakan alat lain seperti The Strategic Sourcing Gemstone. Meski memiliki kemiripan, saya menemukan bahwa The Purchasing Chessboard menawarkan detail yang jauh lebih komprehensif.

Berikut adalah beberapa strategi yang kerap saya terapkan berdasarkan kuadran yang ada:

1. Kuadran Strategic (High Supply Power, High Demand Power)

Strategi utamanya adalah Seek Joint Advantage with Supplier. Fokusnya adalah mencari keuntungan bersama. Dari 16 metode yang tersedia, beberapa yang sering saya optimalkan meliputi:

  • Strategic Alliance & Project-based Partnership
  • Profit & Revenue Sharing
  • Collaborative Cost Reduction
  • Supplier Development
  • Vendor-Managed Inventory (VMI)

2. Kuadran Leverage (Low Supply Power, High Demand Power)

Di sini, kita harus Leverage Competition Among Suppliers. Mengingat daya tawar pembeli yang tinggi, metode yang efektif meliputi:

  • Global Sourcing & Low-Cost Country (LCC) Sourcing
  • Reverse Auctions & Expressive Bidding
  • Total Cost of Ownership (TCO)
  • Unbundled Prices
  • Leverage Market Imbalances

3. Kuadran Routine (Low Supply Power, Low Demand Power)

Fokus utama adalah Manage Spend atau efisiensi proses. Metode yang sering saya gunakan adalah:

  • Demand Reduction & Compliance Management
  • Contract Management
  • Procurement Outsourcing
  • Bundling Across Sites & Supplier Consolidation
  • Standardization

4. Kuadran Bottleneck (High Supply Power, Low Demand Power)

Tujuannya adalah Change Nature of Demand. Karena ketergantungan pada pemasok cukup tinggi, kita harus kreatif dalam mengubah spesifikasi:

  • Bottleneck Management
  • Design for Sourcing
  • Functionality & Specification Assessment

Kolaborasi Lintas Fungsi adalah Kunci

Penting untuk diingat bahwa tidak semua metode di atas sepenuhnya berada dalam kendali tim Procurement atau SCM. Keberhasilan eksekusinya memerlukan dukungan lintas departemen:

  • Level Eksekutif: Diperlukan untuk kemitraan strategis yang melibatkan strategi korporat.
  • Tim Engineering: Krusial untuk metode seperti Functionality Assessment, Design for Manufacture, dan Specification Assessment.
  • Tim IT & Statistik: Dibutuhkan untuk integrasi sistem dan analisis data yang mendalam.

Dampak Terhadap Cost Saving

Berdasarkan pengalaman saya, potensi penghematan sangat bervariasi tergantung pada metode dan tingkat kematangan (maturity) fungsi Procurement di perusahaan tersebut. Implementasi LCC Sourcing, misalnya, bisa menghasilkan cost saving signifikan antara 20–30%. Di sisi lain, metode seperti Supplier Consolidation mungkin hanya menghasilkan 3–5%, namun tetap krusial untuk penyederhanaan operasional.

Bagaimana dengan pengalaman Anda? Dari 64 metode yang ada, strategi apa yang menjadi favorit Anda di setiap kuadran tersebut?

Yuk, kita diskusikan di kolom komentar!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar