Sebuah perusahaan pembangkit listrik mengoperasikan beberapa pembangkit listrik.
Selama
bertahun-tahun, operasi mereka stabil. Namun memasuki tahun tertentu, situasi
mulai berubah drastis:
Permintaan
listrik meningkat tajam, beberapa pembangkit tua mengalami gangguan, jadwal
maintenance semakin padat. Dan ada satu hal paling krusial: Ketersediaan
critical spare parts mulai langka.
Ternyata sedang ada masalah utama : Supply Constraint & Bottleneck.
Masalah utama datang dari supplier utama mereka, sebuah perusahaan global
manufaktur komponen utama mereka. Lead time meningkat dari 3 bulan menjadi 9
bulan dan supplier mulai memprioritaskan customer global lain.
Akibatnya perusahaan pembangkit listrik ini mengalami: 2 kali
unplanned shutdown, potensi kehilangan produksi listrik, dan risiko
penalti dari customer (Perusahaan Utility Pemerintah).
Direksi perusahaan melihat bahwa kalau mereka tidak mengamankan kapasitas supplier, ini bukan lagi soal biaya… tapi soal listrik padam.
Tim procurement & engineering melakukan analisa mendalam:
1. Spend & Criticality
Analysis: 80% downtime berasal dari 3 jenis spare part, tidak ada alternatif
supplier yang cepat.
2. Supply
Market Analysis: Supplier global kapasitasnya terbatas, Banyak kompetitor sudah
lock capacity
3. Risk Assessment: Cost of downtime: USD 500,000 per hari, Risiko reputasi dan regulator sangat tinggi.
Kesimpulan mereka jelas: Ini bukan lagi sourcing biasa — ini masalah kapasitas
Perusahaan Pembangkit Listrik ini akhirnya mengambil sebuah Keputusan
Strategis: Menjalin CRA (Capacity Reservation Agreement) dengan supplier utama
mereka !!
Singkat cerita, kisah in berakhir dengan happy ending, walaupun di tengah nya banyak juga kendala dalam penerapan CRA ini.
Mungkin ada
rekan-rekan yang ingin tahu lebih dalam tentang CRA ini.
Capacity Reservation Agreement (CRA) adalah kontrak antara perusahaan
(buyer) dan pemasok (supplier) untuk memesan atau “mengunci” kapasitas
produksi/jasa tertentu dalam periode waktu tertentu. Biasanya perusahaan
membayar reservation fee / commitment fee, walaupun kapasitas tersebut belum
tentu dipakai sepenuhnya.
Perusahaan memastikan supplier menyediakan kapasitas khusus (misalnya:
volume produksi, slot pabrik, tenaga kerja, armada, dll). Supplier berkomitmen
tidak mengalokasikan kapasitas tersebut ke pihak lain. Ada kompensasi finansial
sebagai imbal balik atas komitmen ini.
Contoh seperti kasus di atas, …. contoh lain seperti:
Perusahaan
energi memesan kapasitas rig pengeboran selama 12 bulan.
FMCG mem-book kapasitas produksi di contract manufacturer menjelang peak season.
Tertarik untuk
mempelajari CRA lebih lanjut? Yuk kita diskusikan lebih lanjut di part 2






