Sepanjang perjalanan karier saya sebagai praktisi maupun konsultan di bidang Procurement & Supply Chain Management (SCM), The Purchasing Chessboard selalu menjadi salah satu instrumen favorit saya. Dengan 64 metode yang tersedia, alat ini sangat ampuh untuk mengidentifikasi peluang efisiensi biaya sekaligus meningkatkan nilai tambah (value) bersama pemasok.
Dalam
implementasi 7 Steps Strategic Sourcing, pengembangan Category
Strategy, hingga penyusunan rencana Cost Saving, The Purchasing Chessboard
menjadi "menu wajib" yang saya gunakan berdampingan dengan Kraljic
Matrix untuk menentukan langkah yang paling tepat. Sebelum mendalami The
Purchasing Chessboard, saya sempat menggunakan alat lain seperti The
Strategic Sourcing Gemstone. Meski memiliki kemiripan, saya menemukan bahwa
The Purchasing Chessboard menawarkan detail yang jauh lebih
komprehensif.
Berikut adalah
beberapa strategi yang kerap saya terapkan berdasarkan kuadran yang ada:
1. Kuadran
Strategic (High Supply Power, High Demand Power)
Strategi
utamanya adalah Seek Joint Advantage with Supplier. Fokusnya adalah
mencari keuntungan bersama. Dari 16 metode yang tersedia, beberapa yang sering
saya optimalkan meliputi:
- Strategic Alliance & Project-based
Partnership
- Profit & Revenue Sharing
- Collaborative Cost Reduction
- Supplier Development
- Vendor-Managed Inventory (VMI)
2. Kuadran
Leverage (Low Supply Power, High Demand Power)
Di sini, kita
harus Leverage Competition Among Suppliers. Mengingat daya tawar pembeli
yang tinggi, metode yang efektif meliputi:
- Global Sourcing & Low-Cost Country (LCC)
Sourcing
- Reverse Auctions & Expressive Bidding
- Total Cost of Ownership (TCO)
- Unbundled Prices
- Leverage Market Imbalances
3. Kuadran
Routine (Low Supply Power, Low Demand Power)
Fokus utama
adalah Manage Spend atau efisiensi proses. Metode yang sering saya
gunakan adalah:
- Demand Reduction & Compliance Management
- Contract Management
- Procurement Outsourcing
- Bundling Across Sites & Supplier
Consolidation
- Standardization
4. Kuadran
Bottleneck (High Supply Power, Low Demand Power)
Tujuannya
adalah Change Nature of Demand. Karena ketergantungan pada pemasok cukup
tinggi, kita harus kreatif dalam mengubah spesifikasi:
- Bottleneck Management
- Design for Sourcing
- Functionality & Specification Assessment
Kolaborasi
Lintas Fungsi adalah Kunci
Penting untuk
diingat bahwa tidak semua metode di atas sepenuhnya berada dalam kendali tim
Procurement atau SCM. Keberhasilan eksekusinya memerlukan dukungan lintas
departemen:
- Level Eksekutif: Diperlukan untuk kemitraan
strategis yang melibatkan strategi korporat.
- Tim Engineering: Krusial untuk metode
seperti Functionality Assessment, Design for Manufacture, dan Specification
Assessment.
- Tim IT & Statistik: Dibutuhkan untuk
integrasi sistem dan analisis data yang mendalam.
Dampak
Terhadap Cost Saving
Berdasarkan
pengalaman saya, potensi penghematan sangat bervariasi tergantung pada metode
dan tingkat kematangan (maturity) fungsi Procurement di perusahaan
tersebut. Implementasi LCC Sourcing, misalnya, bisa menghasilkan cost
saving signifikan antara 20–30%. Di sisi lain, metode seperti Supplier
Consolidation mungkin hanya menghasilkan 3–5%, namun tetap krusial
untuk penyederhanaan operasional.
Bagaimana dengan pengalaman Anda? Dari 64 metode yang ada, strategi apa yang menjadi favorit Anda di setiap kuadran tersebut?
Yuk, kita
diskusikan di kolom komentar!






